expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 25 Desember 2017

KEMENANGAN AWAL KDM

Masa pendaftaran Pilgub Jabar/Pilkada serentak 2018 ke KPUD Jawa Barat jatuh pada tanggal 8-10 Januari 2018, artinya masih ada waktu sekitar Dua Minggu lagi, alhamdulillah KDM telah kembali dicalonkan partainya. Rasanya dalam waktu 2 Minggu tidaklah terlalu sulit bagi KDM untuk mencari pendamping sebagai Jabar 2 sekaligus membangun koalisi dengan partai partai lainnya sebagai syarat sahnya pencalonan yaitu 20 persen jumlah kursi di DPRD Jabar atau 25 persen perolehan suara parpol.

Partai Golkar yang telah memiliki 17 kursi di DPRD Provinsi Jawa Barat hasil pileg 2014 lalu hanya perlu 3 kursi lagi, seandainya Partai Golkar berkoalisi dengan Partai Hanura yang memiliki 3 kursi sudahlah cukup, apalagi jika sampai KDM mendapat dukungan dari dari salah satu partai partai ini,
PDI Perjuang yang memiliki 20 kursi,
PKB yang memiliki 7 kursi
PPP yang memiliki 9 kursi.
Tentu akan semakin memantapkan KDM untuk berlaga di Pilgub Jabar 2018 nanti.

Jika kita amati perkembangan PIlgub Jabar 2018 sampai hari ini, Berbeda dengan 2 (Dua) nama Balon lainnya yang selalu di sebut sebut berdasar hasil survey sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat, Puji Syukur kepada Allah SWT. posisi KDM saat ini telah relative aman, karena langkah awalnya sebagai Gubernur Jawa Barat yaitu tentu harus menjadi peserta dalam Pilgub Jabarnya.

Lolosnya KDM menjadi peserta dalam Pilgub Jabar 2018 semua ini dapat kita anggap sebagai kemenangan awal bagi KDM untuk meraih Jabar1. (DKS)
#dedimulyadi7abar1

Sabtu, 23 Desember 2017

SELAMAT UNTUK KANG DEDI MULYADI (KDM) YANG TELAH RESMI DICALONKAN OLEH PARTAI GOLKAR DALAM PILGUB JABAR 2018


"Orang Lembur Jadi Gubernur" sepertinya propaganda ini akan tersebar dan bergema disetiap sudut sudut kampung sampai di jalan jalan utama kota yang ada di Jawa Barat. Jika kita melihat ke belakang bukanlah satu perjuangan mudah bagi seorang KDM untuk dapat dicalonkan oleh partainya sendiri partai Golkar, kalau bukan taqdir dari Yang Maha Kuasa hampir semua pihak melihat bahwa KDM sangat sulit untuk berlaga di Pilkada Jabar 2018 dan hanya mukzizatNYa lah yang hanya akan mengatarkannya.

Namun Tuhan maha adil, orang baik seperti KDM yang menjadikan membatu sesama baginya adalah satu kebahagiaan, tidak akan dibiarkan nasib karier politiknya harus kandas ditengah jalan. seperti kata pribahasa orang Sunda; "Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng".bagi KDM nasibnya di Pilgub Jabar 2018 sepertinya telah diselamatkan oleh semua kebaikannya yang pernah beliau tanam selama ini.

Kedepannya terlepas dari beberapa opsi yang disodorkan Partai Golkar, semoga KDM dapat keluar sebagai pemenangnya di Pigub Jabar 2018 dengan satu putaran saja. Mari kita do'akan semoga KDM menjadi orang nomer 1 (satu) di Jawa Barat dan akan berkantor di Gedung Sate Bandung dengan segala kebijakan yang dibuatnya dapat membawa perubahan dan kemajuan untuk provinsi Jawa Barat. (DKS)
#dedimulyadi7abar

NAMA KANG DEDI MULYADI (KDM) SEMAKIN HARUM MEWANGI DI SEANTERO JAWA BARAT


Semua rangkaian peristiwa politik khusunya yang terjadi di internal partai Golkar yang menarik perhatian publik secara nasional, secara tidak langsung telah mendongkrak elektabilitas dan popularitas KDM, peran aktip KDM dari sebelum sampai selesainya Munaslub Partai Golkar 2017 kemarin, telah membuka mata hati masyarakat tentang ke piawian dan kecerdasan seorang KDM dalam berorganisasi dan efek dari semua ini orang awampun saat ini jika anda iseng iseng ditanya atau diajak diskusi tentang Pilgub Jabar pada umumnya mereka memprediksi, KDM akan menjadi pemenang di Pilgub Jabar 2018 nanti, apalagi pasca dicabutnya rekomendasi partai Golkar terhadap salah satu Balon dari kota Bandung.

Saat ini realita yang ada di masyarakat Jawa Barat bahwa KDM telah memiliki kantong kantong suara yang hampir merata di seluruh Jawa Barat, ditambah dengan keberadaan para kader Golkar yang tersebar dan begitu mengakar sampai ke tingkat RT/RW di Jawa Barat, ini tidak hanya membuat nama KDM semakin dikenal oleh masyarakat di seluruh Jawa Barat namun juga semakin harum mewangi dengan sifat kedermawan KDM.


Untuk selanjutnya kita berharap dengan siapapun KDM disandingkan tidak masalah, karena kita meyakini siapapun yang menjadi pilihan KDM atau partai pengusungnya merupakan figure terbaik, yang layak mendapingi KDM membaktikan dirinya di tanah Sunda. Namun tentunya kita semua akan sangat kecewa jika ada pihak pihak yang ingin menempatkan KDM menjadi nomer 2 di Jawa Barat. Jika hal ini terjadi kita menyayangkan semua potensi yang ada di diri KDM. Karena kita semua dapat menilai secara obyektif bahwa KDMlah paling layak dan pantas untuk menjadi orang nomer 1nya di Jawa Barat. (DKS)
#dedimulyadi7abar1

Jumat, 22 Desember 2017

PERTEMUAN "DRAMATIS" DEDI MULYADI DENGAN RIDWAN KAMIL DI KAMPUS UNIVERSI...



"Masyrakat memang memiliki harapan untuk menyatukankan keduanya,
padahal dari jauh jauh hari sebelum suasana menjelang Pilgub, rivalitas
dari keduanya telah terbentuk.
Jika KDM lebih memilih menghindar,
Memang benar demikian akan ada rapat nanti malamnya, disisi lain KDM
merupakan kader yang taat azas, Pilgub Jabar saat ini sudah masuk ke
dalam tahapan urusan partai ketimbang deal deal pribadi"
#dedimulyadi7abar1

Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk pertama kalinya bertemu Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, setelah pencabutan rekomendasi bakal calon gubernur Jawa Barat.
Keduanya bertemu dalam dialog terbuka bertema "Mencari Solusi Untuk Tantangan Pembangunan Jawa Barat 2018-2023".
Dialog tersebut digelar di Auditorium PSJ universitas Indonesia Kampus UI Depok, Jawa Barat, Kamis (21/12/2017).

Pertemuan keduanya tidak berlangsung lama. Bahkan, terbilang cukup
singkat, yakni 10 menit. Mereka juga tak terlibat obrolan di panggung
dialog tersebut. Situasinya terkesan canggung.
Ridwan Kamil yang
datang terlambat, tiba di arena dialog saat Dedi Mulyadi tengah
memaparkan terkait persoalan-persoalan di Jawa Barat.
Dedi sempat menghentikan penjelasannya untuk memberi hormat atas kehadiran‎ Ridwan Kamil.
Saat Ridwan Kamil tiba di depan panggung, keduanya bersalaman.

Namun, setelah bersalaman, Dedi langsung melanjutkan pemaparannya.
Sedangkan, Ridwan Kamil mengambil posisi duduk di sebelah kiri Dedi
Mulyadi.
Ridwan Kamil tampak sibuk menulis catatan di buku saku, saat Dedi menyampaikan pemaparan.
Setelah itu, giliran Ridwan Kamil menyampaikan pola pikirnya terhadap solusi permasalahan di Jawa Barat.
Namun, sebelum Ridwan Kamil melakukan pemaparan, Dedi segera berpamitan untuk meninggalkan tempat acara.
"Saya harus meninggalkan lebih dulu karena ada acara lain," ucap Dedi.

Dedi kembali menyalami Ridwan Kamil yang duduk di sebelah kirinya.
Momen kebersamaan keduanya diakhiri dengan sesi foto bersama.
Diketahui, Partai Golkar telah mencabut rekomendasi untuk Ridwan Kamil sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat.
Pencabutan tersebut dikarenakan Ridwan belum mendeklarasikan wakilnya di Jawa Barat.(*)

Minggu, 17 Desember 2017

MESRA "BANTENG BERINGIN" DAN POTENSI KOALISI DI PILGUB JABAR 2018

Jika beberapa bulan kemarin Kang Emil mengatakan:
"Saya Pemain Pilkada, Sudah Tahu Triknya",
namun sayang saat ini bola telah berhasil direbut KDM, saat ini KDM yang memegang kendali permainan, seperti pertarungan laga El Clasico antara Madrid VS Barca, pertarungan Pilkada Jabar 2018 bukan masalah trik yang menjurus diving, namun lebih kepada kepintaran memanfaatkan momentum, Sebagai politisi kawakan yang memiliki reputasi dan jam terbang yang panjang KDM faham benar ada saatnya bertahan dan tentunya ada saatnya melakukan counter attack, Saat ini KDM tidak hanya dapat menyamakan kedudukan, namun mampu juga mencetak gol kemenangan di masa masa injury time (DKS)
#dedimulyadi7abar1


MESRA "BANTENG BERINGIN" DAN POTENSI KOALISI DI PILGUB JABAR 2018
Jakarta, CNN Indonesia -- Airlangga Hartarto terpilih menjadi Ketua Umum Golkar dalam rapat Pleno DPP Golkar. Menteri perindustrian itu menggantikan posisi Setya Novanto yang kini menjadi terdakwa kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP.
Terpilihnya Airlangga, menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno akan membawa angin perubahan di partai beringin. Dia memprediksi partai Golkar akan semakin mesra dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai penyokong presiden Joko Widodo.
Kemesraan beringin dengan banteng, menurut Adi akan terlihat pada pemilihan kepala daerah serentak 2018.
Menurut Adi , Airlangga merupakan sosok yang dekat dengan Jokowi, karena saat ini menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Komunikasi antara Airlangga dan Jokowi berjalan tanpa hambatan sehingga kedekatan akan sangat mudah tercipta.
Kedekatan Airlangga dengan PDIP juga ditunjukkan ketika Rakornas Tiga Pilar PDIP di Tangerang, Banteng. Airlangga hadir dalam acara tersebut.
Bahkan, di sela-sela acara, Airlangga menyempatkan diri berbincang dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo, dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Wakil Presiden Jusuf Kalla turut duduk bersama mereka.
"Melihat kemesraan dua ketua umum itu, wajar jika Golkar dan PDI Perjuangan tengah menjajaki suatu koalisi untuk hadapi pilkada serentak," kata Adi kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Minggu (18/12) malam.
PDIP-Golkar di Jawa Barat
Langkah partai Golkar mencabut rekomendasi terhadap Ridwan Kamil dalam pemilihan gubernur Jawa Barat, kata Adi, adalah langkah awal hubungan mesra Golkar-PDIP.
Keputusan Golkar mencabut dukungan kepada Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur Jabar, diambil karena Ridwan Kamil tidak kunjung menetapkan Daniel Mutaqien sebagai calon wakil gubernur hingga batas waktu yang diberikan Golkar, yakni 25 November 2017.
Golkar menyatakan keluar dari poros PPP, PKB, NasDem, dan Hanura yang telah mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat.
Adi mengatakan, peluang Golkar untuk membentuk koalisi dengan PDIP di Pilgub Jabar sangat terbuka.
"Skenario terdekat ya Golkar dan PDI Perjuangan berkoalisi jika melihat kemesraan ketua umum mereka," ujar Adi.
Alasan lain, kemungkinan adanya poros baru itu yakni kuatnya posisi Golkar dan PDIP di DPRD Jawa Barat.
Berdasarkan kepemilikan kursi di DPRD Jawa Barat, Golkar memiliki 17 kursi, dan PDIP memiliki 20 kursi. Dengan jumlah total 37 kursi, Koalisi dua partai itu sudah bisa mengusung calon gubernur-wakil gubernur. Bahkan, PDIP sebetulnya bisa mencalonkan calon pasangan tanpa harus berkoalisi.
Adi memperkirakan poros baru itu akan mengusung Ketua DPD Jawa Barat Golkar, Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur.
Kemungkinan itu terjadi sangat besar mengingat elektabilitas Dedi cukup tinggi dalam sejumlah hasil survei.
Dedi juga merupakan kader yang telah banyak memberikan kontribusi kepada Golkar. Dedi juga berkontribusi mengantarkan Airlangga terpilih sebagai ketua umum baru.
"Jadi wajar kalau Golkar-nya Airlangga memberikan kesempatan kepada Dedi. Bahkan bagus, karena Ridwan Kamil selama ini enggak ada kontribusi kepada Golkar seperti yang Dedi berikan sebagai kader," ujar Adi.
Adi menilai PDIP akan rela dengan posisi calon wakil gubernur dalam poros baru tersebut.
PDIP memang mampu mencalonkan calonnya sendiri berkat kepemilikan 20 kursi di DPRD Jawa Barat. Namun di sisi yang lain, PDI Perjuangan tidak memiliki kader yang memiliki elektabilitas yang mampu mengimbangi Dedi.
Merujuk hasil survei Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny Januar Ali, tidak ada kader PDIP yang tingkat elektabilitasnya mendekati Dedi.
Berdasarkan survei yang dilakukan sepanjang 22-29 September dengan melibatkan 440 responden. Nama Ridwan Kamil menempati posisi elektabiltas teratas dengan 26,7 persen, disusul Dede Yusuf (20,1 persen), Deddy Mizwar (19,2 persen), Abdullah Gymnastiar(10 persen), Dedi Mulyadi (9,7 persen), dan UU Ruzhanul Ulum (5,1 persen).
"Dedi paling realistis menjadi Cagub. Bahkan nama Puti (Guntur Soekarnoputri) yang diisukan bakal diusung PDIP pun enggak muncul dalam survei. PDIP pasti melihat itu," kata Adi.

GOLKAR CABUT DUKUNGAN UNTUK RIDWAN KAMIL DI PILGUB JABAR 2018


detikNews / Berita / Detail Berita
Bandung - Golkar mengubah dukungannya di Pilgub Jabar. Ketum Golkar Airlangga Hartanto mencabut dukungan terhadap pasangan calon Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien yang sebelumnya disahkan oleh Setya Novanto.
Pencabutan itu tertuang dalam surat DPP Golkar yang dikirim ke Ketua DPD Golkar Jabar. Surat dengan nomor R-552/Golkar/XII/2017 sudah ditandatangani oleh Ketum Golkar Airlangga Hartanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham di bagian bawah surat.
Surat berjudul Pencabutan Surat Pengesahan Pasangan Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat itu bersifat rahasia. Namun, surat tersebut sudah beredar di kalangan wartawan pada Minggu (17/12/2017).
Dalam surat pencabutan dukungan tersebut didasari tiga hal. Pertama, berdasarkan surat DPP Partai Golkar nomor : R-485/Golkar/X/2017 tertanggal 24 Oktober 2017 tentang rekomendasi/pengesahan pasangan calon kepala Daerah Provinsi Jawa Barat atas nama H. Mochammad Ridwan Kamil, dengan Daniel Muttaqien.
Kedua, surat DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat nomor B: 116/Golkar/XII/2017 tertanggal 16 Desember 2017 tentang laporan Pilkada Jawa Barat. Ketiga, Petunjuk pelaksanaan DPP Partai Golkar nomor : Juklak-6/DPP/Golkar/VI/2016 tanggal 15 Juni 2016 tentang penetapan pasangan Calo
n Gubernur, Bupati dan Walikota dari partai Golongan karya.
"Dalam surat itu tertulis, bahwa DPP Golkar Jabar telah menindaklanjuti keputusan DPP Partai Golkar tentang pengesahan pasangan calon kepala daerah Provinsi Jawa Barat di poin pertama, dengan mengirimkan surat kepada Ridwan Kamil untuk segera menetapkan pasangan calon wakilnya dalam Pilkada Provinsi Jawa Barat, yaitu Daniel Mutaqien dengan batas waktu 25 Nopember 2017," bunyi surat tersebut.
Namun, sampai dengan batas waktu yang ditentukan, yaitu tanggal 25 Nopember 2017 (bahkan sampai saat ini), Ridwan Kamil belum memutuskan calon wakil kepala daerah sebagaimana surat nomor: R-485/Golkar/X/2017.
Maka dalam rangka menjaga kehormatan dan marwah partai serta kepentingan partai Golkar, DPP Partai Golkar memutuskan untuk mencabut dan menyatakan tidak berlaku surat DPP Partai Golkar nomor R-485/Golkar/X/2017 tertanggal 24 Oktober 2017.
"DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat agar menyampaikan pencabutan surat ini kepada Ridwan Kamil, Daniel Muttaqien dan pihak-pihak terkait," begitu isi surat tersebut.
Wasekjen Golkar Ratu Diah Hatifah membenarkan terkait surat pencabutan tersebut. Surat tersebut sudah diteken oleh Ketua Umum Airlangga Hartanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham.
"Iya benar soal surat itu, tapi belum kita publikasikan. Dikeluarkan oleh Golkar hari ini," kata Ratu.
(bag/bag)
#dedimulyadi7abar1