expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Selasa, 02 Januari 2018

FAKTA PILGUB JABAR, CAWAGUB BERAWALAN NAMA “DE” SELALU MEMBAWA KEBERUNTUNGAN



Mari kita melihat tentang fakta yang berkembang sejak awal Pilgub Jabar di pilih langsung yaitu sejak Pilgub Jabar tahun 2008. Salah satu fakta yang sangat menarik yaitu Cawagub yang namanya berawalan DE selalu membawa keberuntungan.

Pemilihan Umum Gubernur Jawa Barat 2008 Terdapat tiga pasangan calon yang berkompetisi dalam pemilihan ini, yaitu Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana (DA'I) yang diusung oleh Partai Golkar, dan Partai Demokrat; Agum Gumelar dan Nu'man Abdul Hakim (AMAN) yang diusung oleh PDI-P, PPP , PKB, PKPB, PBB, PBR dan PDS; dan terakhir Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE) yang diusung oleh PKS dan PAN.
Pemilihan ini dilaksanakan pada 13 April 2008 dan dimenangkan oleh pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf dengan perolehan suara 40,50%, disusul pasangan Agum Gumelar dan Nu'man Abdul Hakim dengan perolehan suara 34,55%, dan terakhir pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana dengan perolehan suara 24,95%..

Danny–Iwan Golkar dan Demokrat 4.490.901 24,95 %
Agum–Nu'man PDI-P, PPP , PKB, PKPB, PBB, PBR dan PDS
6.217.557 34,55 %
Heryawan–Dede PKS dan PAN 7.287.647 40,50 %
Jumlah suara yang masuk sebanyak 18.802.665 dari 26 kabupaten kota. Suara yang sah 17.996.105 dan yang tidak sah 806.560.

Ketika itu Pak Agung Gumelar dianggap paling berpeluang memenangkan, mengingat kepopulerannya sebagai tokoh nasional dan banyaknya Partai pendukung termasuk partai besar seperti PDIP.
Namun fakta pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf sebagai pemenang, Cawagub Dede Yusuf =DE.

Pemilihan umum Gubernur Jawa Barat 2013
dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2013 untuk memilih Gubernur Jawa Barat periode 2013–2018. Terdapat lima pasang kandidat yang bersaing dalam pemilihan umum ini, yaitu Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura); Dede Yusuf dan Lex Laksamana yang diusung oleh Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB); Dikdik Mulyana Arief Mansur dan Cecep Nana Suryana Toyib yang berlaga secara independen; Irianto MS Syafiuddin dan Tatang Farhanul dari Partai Golkar; dan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Pemilihan digelar pada tanggal 24 Februari 2013 dan dimenangkan oleh pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar, dengan perolehan suara lebih dari 30%.

Dikdik–Cecep Independen 359.233 1,79 %
Yance–Tatang Golkar 2.448.358 12,17 %
Dede–Lex Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Gerindra
5.077.522 25,24 %
Aher–Deddy PKS, PPP, PKB dan Hanura 6.515.313 32,39%
Rieke–Teten PDIP 5.714.997 28,41 %
Tidak sah/golput 598.356
Total 20.713.779 100 %
Pemilih terdaftar 32.646.000

Meskipun kita menyayangkan ada lebih 12 Juta rakyat Jawa Barat yang tidak memberikan Hak pilihnya,
Namun Fakta nya tetap sama seperti di Pilgub 2008, Nama Cawagub berawalan huruf DE selalu membawa keberuntungan.

Seperti yang kita tahu, Pada Pilgub Jabar 2013 ini Pak Aher pecah kongsi dengan Kang Dede.Namun tetap keluar sebagai pemenangnya. Mungkin kemenangan Pak Aher ini tidak terlepas dari Cawagubnya yang membawa keberuntungan yaitu Dedi Mizwar. Yang memiliki awalan nama “DE”

Tinggal kita menunggu saja apakah Fakta ini akan terulang di Pilgub Jabar 2018 nanti? “Wallahu A'lam”
Namun jika kita analisa berdasar fakta dari dua kali Pilgub Jabar, beruntunglah pasangan calon yang memiliki Cawagubnya yang berawalan “DE” silahkan anda tebak kira kira siapa itu? (DKS)
#dedimulyadi7abar1

Senin, 01 Januari 2018

BUPATI PURWAKARTA MENCIUM TANGAN SEORANG PETUGAS KEBERSIHAN

Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi mencium tangan seorang Petugas Kebersihan, sungguh luar biasa bagaimana seorang Kepala Daerah dapat merendahkan dirinya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada dedikasi para petugas kebersihan, Peristiwa ini terjadi ketika Pemkab Purwakarta melangsungkan Tradisi unik di setiap malam pergantian tahun, yaitu Tradisi Tukar Nasib antara Petugas Kebersihan dengan Para Pegawai Pemkab Purwakarta. 

"Orang yang selalu melayani orang lain lebih mulia dari pada melayani dirinya.sendiri"
#dedimulyadi7abar1

POLA PIKIR KANG DEDI MULYADI (KDM) SANGAT MODERAT BAHKAN REVOLUSIONER







Seiring dengan santernya pemberitaan koalisi antara Partai Golkar dengan Partai Demokrat dalam Pilgub Jabar 2018 dengan mengusung H.DEDI MULYADI berpasangan dengan H.DEDDY MIZWAR yang mana koalisi ini menamakan diri dengan koalisi SAJAJAR, artinya disebut Sajajar kedua kandidat ini memiliki kesetaraan yang sama, terlepas siapa yang menjadi Cagub dan Cawagubnya nanti ketika pendaftaran ke KPUD Jawa Barat pada tanggal 9 Januari 2018 nanti. (Semoga saja mereka berdua juga mendaftarkannya pada jam 9 pagi). Koalisi ini mungkin di bangun tidak hanya faktor kesetaraan namun mungkin juga karena faktor kedekatan, mengingat kantor DPP Partai Golkar Jawa Barat dengan kantor DPP Partai Demokrat letaknya hampir bersebelahan tinggal menyeberang jalan saja yaitu sama sama berlokasi di Jl.Maskumambang Bandung.

Begitu menggemanya pasangan ini sehingga mengudang reaksi beberapa pengamat yang berpendapat, bahwa antara KDM dan H.Demiz dianggap pasangan yang kotradiktif dari segi pemikirannya dan dianggap hal ini kurang baik, para pengamat itu menilia pola pikir H.Demiz dianggap moderat/modern dan KDM dianggap konservatif/kolot/tradisional/buhun. Tentu kita para pencinta KDM menolak tuduhan para pengamat yang menyebutkan bahwa KDM memiliki pola pikir seperti yang mereka duga.

KDM memang konservatif/kolot/ buhun ya itu hanya kadang kadang dari segi penampilannya saja, KDM memakai iket,baju dan celana pangsi komprang, kadang kadang juga berjalan tanpa alas kaki, kalau bicara menundukan muka dengan bahasa Sunda yang halus, lemah lembut, hal ini bagi seorang KDM hanya untuk mempresentasikan dirinya sebagai orang Sunda, bahkan ketika beliau berpidato di PBB di bulan Agustus tahun 2015 pun masih dengan penampilan seperti ini tidak diganti dengan memakai Jas dan berdasi.

Seperti yang kita tahu semua, bahwa faktanya pemikiran seorang KDM sangatlah moderat tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai orang Sunda. Lihat saja contohnya semua pelayanan yang ada di Purwakarta berbasis IT semua, Tempat Parawisata milik Pemkab seperti Air Mancur Taman Sri Baduga, yang mampu mendatangkan 50.000 wisatawan setiap minggunya, membangun ini juga perlu keberanian, kalau bukan hasil pemikiran yang moderat dan revolusiner mana bisa. Kemudian Museum Museum Diorama (Wayang, Panyawangan, Bale Indung) semuanya memakai teknologi yang belum ada di kota kota lainnya di Indonesia.
Pemikiran revolusiner lainnya, lihat saja bagaimana beliau dalam mengatur APBD Purwakarta yang jauh dari sekedar cukup, namun lewat gagasan gagasan pemikiran KDM mampu membawa pembangun di Purwakarta menjadi sangat luar biasa.

Dari segi pendidikan, di Purwakarta Pola Pendidikan berkarakter yang merupakan gagasan KDM kita anggap itu satu pemikiran yang sangat revolusioner, karena berani melawan arus dengan pola pendidikan nasional.
Dari segi perencanaan Pembangunan KDM juga memiliki keberanian untuk tidak mengacu dari Blueprin Bapenas, hal ini juga harus kita anggap pemikiran Revolusiner, ATM beras perelek saja ternyata di Purwakarta jauh lebih dulu sebelum ada di kota Bandung yang baru disosialisakan beberapa hari kemarin, semua catatan diatas menunjukan bahwa pola pikir KDM sangat modern dan Revolusiner.(DKS)
#dedimulyadi7abar1

Sabtu, 30 Desember 2017

MITOS MITOS PILGUB JABAR

Ya bagi kita yang beriman apalah arti sebuah mitos, itu hanya bagian dari klenik saja, Bagi kita yang beriman meyakini jika sukses dan tidaknya seseorang merupakan taqdir dari Sang Maha Pencipta. Namun di kehidupan keseharian di masyarakat ada saja sesuatu yang dimitoskan oleh masyarakat itu biasanya karena sesuatu yang berulang ulang terjadi pada suatu peristiwa.
Namun terlepas kita meyakininya atau tidak, Mitos Mitos ini kalau kita amati seperti sebuah hukum alam yang nyata dan bertahan cukup lama, padahal mungkin juga kalau kita kaji atau teliti lebih dalam tentu ada penjelasan secara ilmiahnya.

Ambil contoh contoh yang sederhana namun populer saja di dunia. Kita mengenal Mitos di sejarah Piala Dunia, bahwa tidak pernah ada negara negara Eropa yang berhasil menjadi juara Dunia, jika piala Dunia tersebut di selenggarakan di benua Amerika, Mitos itu terbantahkan setelah Jerman juara piala dunia di Brazil tahun 2014. Namun mitos ini terjadi cukup panjang yaitu hampir selama sejarah terselenggaranya Piala Dunia.

Masih ada juga masih diseputaran sepak bola, ada mitos bahwa dalam Champions liga Eropa, tidak ada tim tim elite Eropa yang mampu menjadi juara secara berturut turut, Mitos ini juga terbantahkan ketika Real Madrid mampu menjadi juara pada tahun 2016 dengan mengalahkan tim sekota Atletico Madrid dengan adu pinalti 5-3, kemudian tahun 2017 juara dengan mengalahkan Juventus dengan score 4:1 di Final, sekaligus mengubur mitos yang bertahan selama hampir 17 tahun pasca dirubahnya kejuaran ini menjadi format seperti sekarang ini. Kalau formatnya zaman dulu sih kejuaraan ini hanya diikuti oleh 1 club juara dari setiap negara dengan sistim home away langsung gugur.

Seperti halnya Gedung yang dijadikan kantor Gubernur Jawa Barat yaitu Gedung Sate Bandung yang memiliki banyak cerita mitos di masyarakat, Begitupun dalam Pilgub Jabarnya sendiri sepajang sejarahnya selepas masa reformasi dimana Gubernur Jabar dipilih langsung oleh rakyat Jawa Barat melalui Pilgub
Dari Dua Kali penyelengaraannya Pada pemilihan Gubernur untuk priode 2008-2013 dan 2013-2018, ada beberapa kenyataan terjadi kemudian masyarakat menyebutnya dengan Mitos Pilgub Jabar.
1.Bahwa Pilgub Jabar merupakan ‘kuburan’ para jenderal.
Mitos tersebut muncul lantaran dari beberapa kali pesta demokrasi pasca reformasi, beberapa jenderal yang ingin mencoba peruntungan duduk di kursi nomor satu dan dua Jawa Barat, berguguran, sebut saja Agum Gumelar, dan Iwan Sulanjana.
"Sudrajat Menampik Mitos Pilgub Jabar ‘Kuburan’ para Jenderal"
2. Mitos Kutukan Survey.
Dari Dua kali penyelenggaraannya bahwa pemenang Pilgub Jabar bukan dari peraih hasil survey tertinggi.
" itu kan ( kutukan survey ) mitos saja sebenarnya, tapi itu kerapkali berulang. Pada 2008 pak Agum Gumelar itu kan dianggapnya tokoh nasional, kenyataannya dikalahkan oleh Aher dan Dede Yusuf. Ada faktor Dede Yusuf disitu. 2013 kejadiannya kurang lebih sama, hanya sedikit perbedaan, waktu itu kan posisi pemenang ( unggul dalam survey ) Dede Yusuf dan Lex Leksamana ya. Dalam mengukur orang ( figur yang akan diusung), menilai orang partai politik harus bisa menilai komprehensif. Bukan hanya survey. Kalau Survey itu kan kondisi hari ini. Katakanlah misalnya RK menang, ya kondisi hari ini, bukan kondisi nanti, 4 6 bulan yang akan datang. Kerja – kerja politik, momentum politik, tim sukses punya kontribusi dalam pemenangan. Katakanlah Aher saat itu ( 2013 ) ditinggal Dede Yusuf, dia ( Aher ) punya strategi lain dengan menggandeng Demiz, ada bansos itu lho, lalu membuat orang lebih memilih dia (Aher) pada putaran kedua. Ya kembali lagi ‘kutukan ‘ itu, ya parpol harus bisa komprehensif, karena dalam politik itu satu ditambah satu hasilnya bukan dua,tidak boleh hanya survey, tapi bagaimana memperkuat basis. Survey itu kan cuma simulasi saja. Kalau Parpol memilih hanya karena survey, ya sepertinya harus dievaluasi lagi" -Muradi
3.Nama Cawagub Jabar yang berawalan DE selalu membawa keberuntungan ada Dede Yusuf di Pilgub Jabar 2008, dan Deddy Mizwar di Pilgub Jabar 2013 dan semoga  Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar 2018 ini.

Inilah mitos mitos yang ada di sejarah pelaksanaan Pilgub Jabar secara langsung sejak tahun 2008.
Tulisan ini tidak bermaksud apa apa, ini hanya sekedar tulisan intermezzo /pengembira saja disuasana kampanye Pilgub Jabar 2018 (DKS)
#dedimulyadi7abar1

TRADISI MALAM TAHUN BARU DI PURWAKARTA, TRADISI KANG DEDI MULYADI TUKAR NASIB DENGAN PARA PEGAWAI RENDAHAN


Besok kita song song malam pergantian tahun selamat tinggal 2017 kita sambut tahun 2018 dengan penuh harapan, seperti halnya yang terjadi di tahun tahun sebelumnya di Purwakarta selalu diadakan acara tukar nasib antara para bos bos Pemkab Purwakarta dengan para pegawai rendahannya seperti petugas kebersihan.tukang tembok dll.

Acara yang digagas KDM ini, selalu memberikan nuansa rasa haru dan kebahagiaan, bagaimana tidak jika seorang Bupati terlihat dengan antusias melayani makan minum para petugas kebersihan lantas kemudian menyapu jalanan.Sementara para tukang sapu duduk nyaman dengan pakaian perlente sambil menikmati hidangan makan malam yang seba lezat.
Peristiwa seperti ini hanya ada di Purwakarta ketika KDM yang menjadi kepala daerahnya.

Bagi seorang KDM acara Tukar Nasib ini tiada lain untuk memberi penghargaan kepada para petugas kebersihan, yang mungkin di Pemkab Pemkab lain, meski mereka ada namun jarang di ingat keberadaannya, apalagi disaat moment tahun baru dimana kebiasaan para bos melawatinya di hotel hotel mewah atau goyang goyang bernyanyi dangdut ditengah panggung terbuka.

Malam pergantian tahun 2017/2018 ini merupakan malam pergantian terakhir KDM menjabat sebagai Bupati Purwakarta, semua karya nyata KDM dalam membangun Purwakarta selama 10 tahun pengabdiannya akan menjadi warisan berharga bagi masyarakat Purwakarta dan kepala daerah berikutnya. (DKS)
#dedimulyadi7abar1

Rabu, 27 Desember 2017

KDM SEORANG KEPALA DAERAH YANG 24 JAM MELAYANI WARGANYA


"Bapakmah tabuh 4 Subuh tos gugah, kadang kadang nu ngajagi oge, sok tingaleun mengikuti kegiatan kegiatan Bapak mah"
Inilah ungkapan dari salah satu pengawal KDM (seorang petugas Satpol PP) sekitar bulan Agustus 2016 lalu,
Jika anda pernah bertamu ke Purwakarta jangan heran kalau datang jam 6 pagi ingin beretemu KDM sudah tidak ada di rumah. Jarak rumah dinas ke lingkungan kantor Pemkab memang sangat dekat, dalam hitungan satu dua menit sudahlah sampai.

Dekatnya jarak antara rumah dinas dengan lingkungan kantor Pemkab Purwakarta membuat aktivitas KDM dalam melayani kegiatan kegiatan kantor hampir dilakukannya selama 24 jam.
Rutinitas KDM sebagai Kepala Daerah di Purwakarta itu dimulai selepas ibadah sholat Subuh, biasanya para pejabat eselon II dilingkungan Pemkab Purwakarta datang ke rumah Dinas untuk bersama sama dengan KDM berolah raga pagi, kalau tidak bersepeda ya joging. Dalam kegiatan ini semua permasalah di bicarakan, KDM menampung kemudian memberikan arahan, jam 7 kembali ke rumah dinas, permasalah permasalahan telah terselesaikan, tinggal bersantap lontong ayam atau surabi hangat yang disediakan secara gratis untuk siapa saja yang ada disekitaran rumah dinas.

KDM bukanlah sosok pejabat yang senang menerima laporan laporan ABS, kalau tidak mengontrol proyek ya blusukan ke warga, kalau pas tidak ada jadwal protokoler, KDM biasanya muter terus dari satu ruangan ke ruangan lain, makanya jangan heran mungkin KDM satu satunya Pejabat Bupati yang hampir kenal dengan seluruh karyawan Pemkabnya sampai ke RT/RWnya di setiap wilayahnya.
Bagi KDM kalau sekedar untuk tanda tangan dimanapun bisa dilakukan di lorong lorong kantor atau sambil duduk lesehan karena sedang sarapan, karena KDM bukalah type seorang pejabat yang sok bergaya borjuis. Semua kalangan di lingkungan Pemkab Purwakarta dari mulai pejabat sampai staf sudah faham benar kalau kerja dengan KDM harus serba cepat, cermat dan kreative, bagaimana tidak KDM yang berjalan saja setengah berlari (Ngageudik) bisa dilayani oleh orang orang lelet. Jadi benar kata petugas yang saya tulis diatas, kadang kadang mereka suka ketinggalan jika mengikuti kegiatan KDM.

KDM memang seorang pejabat dan profesionalisme yang melayani warganya selama hampir 24 jam, hal ini membuat warganya merasa nyaman terlindungi, Handphonenya yang ada nomer sms center itu tidak pernah beliau matikan, sampai tidurpun selalu dibawa bawa, beliau ketakutan bila ada warganya memerlukan bantuan tidak dapat ditangani oleh para petugas dilapangan, beliau ketakutan bila ada warganya sampai ditolak oleh rumah sakit dengan alasan kelas 3nya penuh, inilah gambaran kecil rutinitas KDM sebagai kepala daerah di Purwakarta.

Dari semua ini kita jadi bisa memahami dengan berita berita yang sering kita baca, berbeda dengan daerah daerah lain pada umumnya,jika di Purwakarta penanganan terhadap warga warga yang memerlukan bantuan bisa serba cepat, ya karena KDM sendiri yang memegang komandonya untuk hal hal seperti ini.(DKS)
#dedimulyadi7abar1