Melihat perkembangan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, tidak ada satu
paslon yang tidak dimenangi oleh lembaga survey kemudian kita juga
melihat hasil pilpres di negara embahnya demokrasi Amerika, bagaimana
Hillary yang sampai hari H pemilihan memenangi survey, akhirnya dalam
kenyataannya kandas oleh Trump. Padahal mungkin disana Lembaga lembaga
surveynya mungkin benar benar independen dan kridibel bukan lembaga survey yang hasilnya sesuai pesanan/orderan pihak pihak yang memiliki kepentingan.
Apalagi kalau ada survey untuk Pilgub Jabar 2018, jumlah penduduk Jabar
itu 46 juta dan jumlah pemilihnya berdasar rekap KPU di Pilpres 2014 30
juta lebih tersebar di 18 Kabupaten dan 9 Kota, ini ada lembaga survey
yang mengambil data dari 1600 sempel, kemudian berani menyimpulkan si A
atau si B kandidat untuk terkuat jadi Gubernur Jabar 2018-2023 atas
hasil survey yang mereka lakukan. Nu jelasmah kumaha prungna we engke
dilapangan. (DKS)
#inspirasikangdedi
Loyalitas dari seorang sahabat untuk membuat,menampung opini, menyebarkan berita, video, slogan maupun propaganda semata mata untuk : MENGANTARKAN H.DEDI MULYADI,SH.(DANGIANG KI SUNDA) BERKANTOR DI GEDUNG SATE
Minggu, 22 Januari 2017
KISAH DRAMATIS KANG DEDI MULYADI DENGAN PAK DIYI AKHIR PENDERITAAN SEORANG MARBOT (PENGURUS MASJID)
"Jum'at malam Sabtu dua minggu lalu, di sebuah kegiatan di salah satu kota di Jawa Barat, saya bertemu Pak Diyi.
Lelaki tua itu hidup sebatang kara, anaknya tinggal di Tasikmalaya, setiap hari berkeliling menawarkan jasa sol sepatu dan menjadikan mesjid sebagai rumah tinggal.
Saat itu, suasana nampak haru, saat kami dan teman-teman bersepakat membantu Pak Diyi dengan menyiapkan rumah kontrakan dan modal kerja, hari Jum'at (20/01/2017) kami mendengar kabar Pak Diyi meninggal dunia saat mengunjungi putranya di Tasikmalaya.
Ya Rabb, ternyata pertemuanku dengan Pak Diyi itu adalah yang pertama sekaligus yang terakhir.
Walaupun Pak Diyi tidak sempat menikmati rumah kontrakan dan modal usahanya, kami yakin, Pak Diyi bahagia di alam penantian. Al Faatihah". - Dedi Mulyadi
Ada syair
disalah satu lagu Bang Haji Rhoma Irama, "Langit sebagai atap rumahku
dan bumi sebagai lantainya" Kalau tidak ada Masjid tempat ia tinggal
mungkin nasibnya akan seperti syair dilagu itu.
Inilah kisah Pak Diyi, tukang sol sepatu yang tinggal dan sekaligus sebagai Marbot (Pengurus Masjid) menjalani kehidupannya dengan penuh keikhlasan, dalam kesederhanaannya menjalani realita kehidupan ini dia setiap harinya ketika selesai berkekeliling menjual jasa memperbaiki sepatu atau sandal kulit yang rusak, ketika pulang langsung mendekatkan diri dengan sang pencipta Allah SWT. dengan Ibadah Sholat dan sisa tenaga hari itu dipakai untuk membersihkan Masjid tersebut. Selama sekian tahun sebagai Marbot di Masjid tersebut belum juga ditaqdirkan bertemu dengan orang yang peduli akan nasibnya, sampai satu hari akhirnya di taqdirkan juga bertemu dengan sang penolong itu yaitu tiada lain Kang Dedi Mulyadi. sayang apa yang diberikan Kang Dedi Mulyadi yaitu modal usaha dan tempat ia berteduh yang sekian tahun Pak Diyi impikan dan rindukan yaitu rumah kontrakan tidak bisa Pak Diyi tempati, karena Pak Diyi telah dipanggil untuk menghadap sang Khalik. Ini memang sangat dramatis diakhir masa hidupnya Pak Diyi telah dipertemukan dengan orang yang baik hati dan dermawan yang telah mengakhiri penderitaannya, tapi Allah SWT. berkehendak dengan cara lain untuk mengakhiri penderitaan Pak Diyi tersebut. Semoga saja Do'a dan rasa terima kasih Pak Diyi kepada Kang Dedi Mulyadi akan didengar dan dikabulkan Allah SWT. sehingga apa yang menjadi harapan maupun keinginan Kang Dedi Mulyadi akan tercapai dan semoga almarhum Pak Diyi diterima iman dan Islamnya dilapangkan di alam kuburnya, Amin YRA (DKS).
#inspirasikangdedi
Inilah kisah Pak Diyi, tukang sol sepatu yang tinggal dan sekaligus sebagai Marbot (Pengurus Masjid) menjalani kehidupannya dengan penuh keikhlasan, dalam kesederhanaannya menjalani realita kehidupan ini dia setiap harinya ketika selesai berkekeliling menjual jasa memperbaiki sepatu atau sandal kulit yang rusak, ketika pulang langsung mendekatkan diri dengan sang pencipta Allah SWT. dengan Ibadah Sholat dan sisa tenaga hari itu dipakai untuk membersihkan Masjid tersebut. Selama sekian tahun sebagai Marbot di Masjid tersebut belum juga ditaqdirkan bertemu dengan orang yang peduli akan nasibnya, sampai satu hari akhirnya di taqdirkan juga bertemu dengan sang penolong itu yaitu tiada lain Kang Dedi Mulyadi. sayang apa yang diberikan Kang Dedi Mulyadi yaitu modal usaha dan tempat ia berteduh yang sekian tahun Pak Diyi impikan dan rindukan yaitu rumah kontrakan tidak bisa Pak Diyi tempati, karena Pak Diyi telah dipanggil untuk menghadap sang Khalik. Ini memang sangat dramatis diakhir masa hidupnya Pak Diyi telah dipertemukan dengan orang yang baik hati dan dermawan yang telah mengakhiri penderitaannya, tapi Allah SWT. berkehendak dengan cara lain untuk mengakhiri penderitaan Pak Diyi tersebut. Semoga saja Do'a dan rasa terima kasih Pak Diyi kepada Kang Dedi Mulyadi akan didengar dan dikabulkan Allah SWT. sehingga apa yang menjadi harapan maupun keinginan Kang Dedi Mulyadi akan tercapai dan semoga almarhum Pak Diyi diterima iman dan Islamnya dilapangkan di alam kuburnya, Amin YRA (DKS).
#inspirasikangdedi
Sabtu, 21 Januari 2017
Iwan Fals SWAMI -Nyanyian Jiwa (Festival Budaya Purwakarta)
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri oh
INSPIRASI SANG COWBOY, PURWAKARTA MILIKI STADION KIDANG PANANJUNG CIKUBANG, TEMPAT KETANGKASAN DOMBA SEKALIGUS TEMPAT RISET
"Hari ini kami meresmikan stadion ketangkasan domba bernama 'Kidang Pananjung Cikubang'. Tempat ini menjadi sarana pengembangan peternakan rekreatif, dari mulai lomba ketangkasan, balapan ternak, sampai kontes domba cantik dan tampan.
Segala kelengkapan akan kami tuntaskan dalam waktu tiga bulan ke depan, dari mulai tempat parkir, penginapan sampai hotel ternak sehingga nyaman bagi para pengunjung dan peternak sendiri.
Nah, sekarang sudah waktunya kita bangga menjadi peternak dan jangan biarkan domba dan sapi betina birahi tanpa suami.
Tadi saya ikut menghamili sapi betina tapi melalui Inseminasi Buatan loh, dengan menggunakan alat suntik,
Sepuluh bulan mendatang kelak terlahir bayi sapi hasil perkawinan oleh Kang Dedi, tapi bukan anak Kang Dedi". -Dedi Mulyadi
Purwakarta memang sudah menjadi kota peternak atau kota Cowboy, saat ini Purwakarta telah menjadi daerah produsen domba dan sapi, ini sebagai pelengkap gelar yang di sandang Purwakarta sebagai kota yang istimewa, untuk populasi dombanya saja berdasarkan pendataan Deptan mencapai 1.2 juta ekor melebihi jumlah penduduk Kab.Purwakarta yang sekitar kurang lebih 700 ribuan. Kang Dedi selain sebagai Bupati Purwakarta, secara pribadi sukses juga menjadi seorang pengusaha ternak domba dan sapi sekaligus menjadi inspirator bagi penduduk Purwakarta untuk menjadi peternak, jadi jangan heran bila saat hari raya Qurban atau Idul Adha orang Purwakarta banyak yang kaya mendadak hasil dari kerja kerasnya menjadi peternak domba dan sapi. Purwakarta saat ini telah menjadi kota perburuan hewan hewan kurban dari seluruh Indonesia.
Beranjak dari kesuksesannya menjadi kota peternak, Purwakarta saat ini memiliki stadion ajang kontes domba domba cantik yang diberi nama STADION KIDANG PANAJUNG CIKUBANG, ini bukan stadion adu domba. tapi ini tempat kontes hewan hewan ternak dan peliharaan kreatif, kedepannya tempat ini akan berkembang menjadi destinasi parawisata yang baru di Purwakarta, karena mungkin stadion seperti ini baru ada di Purwakarta untuk memfasilitasi kegiatan kegiatan lomba hewan kreatif sekalis menjadi tempat riset dan pengembangan bibit unggul dan pasar hewan.(DKS)
Kementerian Pertanian Apresiasi Sekolah Pembibitan Ternak Purwakarta
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Kementerian Pertanian, Surachman, mengapresiasi program pendidikan peternakan di Purwakarta yang selama ini telah berlangsung. Program yang telah berlangsung selama beberapa tahun ke belakang ini bahkan telah melahirkan bibit ternak domba bernama Garwa atau Garut Wanayasa sebagai hasil dari Inseminasi Buatan atau kawin silang dari domba asal Garut dan Wanayasa Purwakarta.
Hal ini dia sampaikan di sela kegiatan Festival Ternak Unggul “Kidang Pananjung” hari ini Sabtu (21/1) di Kampung Cikubang, Desa Pusaka Mulya, Kecamatan Kiarapedes Purwakarta. Ia yang hadir mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga sempat berujar bahwa program yang telah dilaksanakan di Purwakarta ini akan dia teliti lebih lanjut untuk dijadikan ‘pilot project’ program peternakan tingkat nasional.
“Program di Purwakarta ini harus kita dukung dan saya langsung akan mensinergikannya dengan program di Kementerian, kami di Kementerian baru ada agricultural camp, ini masih belum cukup, program di Purwakarta ternyata lebih holistic karena terintegrasi dengan kurikulum pendidikan disini,” kata Surachman menjelaskan.
Tentang kurikulum peternakan dalam sistem pendidikan Purwakarta ini, Bupati setempat Dedi Mulyadi yang turut hadir di lokasi acara menjelaskan program yang ia gagas tersebut diluncurkan dalam rangka menumbuhkan kecintaan siswa terhadap hewan ternak yang kian hari kian berkurang.
Selain pelajar di sekolah yang menjadi sasaran program ini, para peternak pun turut diadvokasi melalui pelatihan manajemen peternakan. Menurutnya, aspek manajerial ini kurang difahami oleh peternak sehingga mereka lemah dalam pengelolaan hewan ternak yang mereka pelihara.
“Kalau di sekolah kita buat Inseminasi Buatan agar tercipta bibit unggul, kita tidak berhenti disitu, peternak juga termasuk ke dalam sasaran program ini sehingga mereka menjadi kuat dalam aspek manajemen peternakannya,” jelas pria yang kerap disapa Kang Dedi itu.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun telah menetapkan lima wilayah memiliki kualifikasi sebagai daerah yang layak dijadikan basis peternakan. Empat dari lima wilayah tersebut diproyeksikan sebagai basis peternakan domba sementara sisanya diharapkan menjadi sentra peternakan sapi di kabupaten yang jumlah populasi dombanya lebih banyak dari populasi penduduk ini.
“Untuk domba, kita kembangkan di Darangdan, Wanayasa, Bojong dan Kiarapedes, sementara untuk sapi, Sukasari menjadi wilayah yang kita proyeksikan,” katanya menambahkan.
Ke depan, selain mengimplementasikan program pendidikan peternakan, Kabupaten Purwakarta pun berencana membangun arena ketangkasan hewan yang akan digunakan untuk olimpiade hewan ternak dari berbagai jenis baik domba maupun sapi. Khusus untuk sapi, Pemkab Purwakarta tengah menggodok konsep balap sapi ala Purwakarta. (red)
Jumat, 20 Januari 2017
DEDI MULYADI SANG MARHAEN YANG PEDULI NASIB PARA PETANI
"Padi mengajarkan kita pada sifat rendah hati, menunduk ketika berisi, bertani bukan untuk mencari untung karena harga beras diatur oleh Negara, sedangkan biaya produksi terus melambung tinggi.
Kebahagiaan kita di meja makan adalah hasil jerih payah keringat mereka, tubuh hitam terbakar matahari, setiap hari berlumur lumpur sawah, tak pernah berkeluh kesah apalagi sampai membentangkan spanduk pemberontakan.
Hidup adalah garis takdir yang harus disyukuri, seperti kisah Pak Opik, buruh tani dengan upah 10 Kg dari hasil satu kwintal hasil kotor.
Saatnya kita belajar pada kesabaran mereka dan saatnya kami para pemimpin merasa malu oleh ketabahan mereka".
.-Dedi Mulyadi
Yang kita bicarakan bukan para petani tuan tanah yang sawahnya upluk aplak hektaran, tapi para buruh tani yang nasibnya sejak zaman kolonial hingga saat ini tidak pernah berubah.
Bung Karno terinspirasi oleh sosok Marhaen sosok buruh tani miskin di Bandung selatan, sehingga jiwanya berontak tersentuh oleh keadaan dan realita bahwa setelah mendengar cerita Pak Marhaen, dapat diambil kesimpulan betapa miskinya kaum pribumi ini.
Saat ini Kang Dedi Murupakan pemimpin yang peduli dengan nasib para petani, ada beberapa kebijakannya yang pernah diambil seperti Kang Dedi mengeluarkan kebijakan Pemda Purwakarta mengasuransikan padi yang ditanam oleh para petani, ini adalah langkah cerdas yang moderat yang ada hanya di ada negara negara barat yang sudah maju. Kang Dedi dapat menyelami penderitaan para petani apabila gagal panen entah itu karena hama atau bencana.
Yang belum tersentuh itu para buruh taninya, mereka kerja tidak mengenal standarisasi upah seperti para buruh, apa yang dikisahkan Pak Opik kepada Kang Dedi ini memang merupakan realita nasib para buruh tani hampir diseluruh daerah di Indonesia, mereka menerima upah alakadarnya saja, bahkan tidak dibayar oleh uang. Semoga kedepannya Kang Dedi mampu menjadi pelopor dan penyambung lidah para buruh tani agar ada peraturan yang mengatur standarisasi upahnya.
PANENJOAN PURWAKARTA TEMPAT WISATA INI BARU DIBUKA, LANGSUNG HITS DI INSTAGRAM.
Purwakarta memiliki berbagai destinasi wisata yang ‘instagramable’. Selain Taman Air Mancur Sri Baduga, destinasi wisata ‘Panenjoan’ di Kampung Cinangka Desa Sindang Panon Kecamatan Bojong Purwakarta dapat menjadi salah satu referensi tempat wisata akhir pekan bagi para ‘Instagram holic’.
Daerah yang berjarak sekitar 17 KM dari pusat kota Purwakarta ini dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Wisatawan dapat memulai perjalanan mereka dari Purwakarta mengambil arah menuju Wanayasa, di daerah Pondok Salam, mereka harus berbelok ke arah kanan memasuki Gapura Indung Rahayu yang terletak di pintu masuk Desa Salem.
Jalan hotmix yang mulus sepanjang 10 KM harus mereka tempuh sebelum akhirnya sampai pada penunjuk jalan ‘Kampung Panenjoan’. Untuk sampai ke tempat yang dalam bahasa Sunda bernuansa ‘waas’ atau suasana imajiner yang muncul saat melihat pemandangan indah, wisatawan harus menyusuri jalan di tengah perkebunan teh milik PT Karti Wana Raya.
Destinasi yang buka setiap hari mulai Jam 09.00 WIB sampai Jam 17.00 WIB ini membuat pengunjung bisa ‘nenjo’ (akar kata panenjoan dalam bahasa Sunda). Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, Acep Munawar (39), dari kegunaan untuk ‘nenjo’ inilah ‘Panenjoan’ dijadikan nama untuk tempat ini.
“Panenjoan itu kan tempat untuk ‘nenjo’ atau melihat sekeliling, warga disini menamakannya begitu karena dari sini dapat terlihat Gunung Sangga Buana dan Danau Jatiluhur. Bahkan, kompleks kantor Setda Purwakarta pun terlihat dari sini, belum lagi pemandangan yang membuat ‘waas’ itu,” katanya menjelaskan.
Memasuki area ‘Panenjoan’ pengunjung akan diminta biaya tiket sebesar Rp5 ribu, biaya parkir motor sebesar Rp2 ribu, sementara untuk parkir kendaraan roda empat dipungut biaya sebesar Rp5 ribu lagi. Destinasi wisata yang terbilang baru ini dikelola oleh warga setempat bekerja sama dengan PT Karti Wana Raya sejak Tahun 2016 lalu.
Salah seorang pengunjung yang datang ke Kampung ‘Panenjoan’, Fahmi Aziz (24) mengatakan dirinya pertama kali mengetahui keberadaan tempat ini dari posting teman instagram-nya, merasa penasaran terhadap view-nya, ia pun menyempatkan diri untuk datang langsung bersama teman kantornya yang lain.
“Lihat di instagram sepertinya bagus, jadi hari ini menyempatkan datang, kebetulan kantor kami sedang ‘outing’. Bagus banget view-nya,” kata Fahmi hari ini Jum’at (20/1) di lokasi wisata tersebut.
Selain menyajikan view yang instagramable, di sekitar Kampung ‘Panenjoan’ pun terdapat wisata ziarah yang selalu ramai setiap malam Jum’at yaitu Makam Syaikh Daka atau terkenal dengan sebutan Syaikh Serepong yang merupakan adik dari Syaikh Dako Rancadarah Purwakarta. (*/bb)
#inspirasikangdedi
Kamis, 19 Januari 2017
BERGERAK DAN BERKARYA
Jangan hentikan utopi ini,
hingga saat nanti berhenti bukan lah opsi.
Berencana,
bergerak dan terus bergerak tak berhenti adalah misi,
kemudian menyusup senyap dari arah lain ikut dalam arus yang telah ada,
satu pekerjaan baru,
satu mimpi baru,
satu rencana baru,
kembali hanya untuk membuatku tetap bergerak dan BERKARYA.
BERKARYA,
pada apapun yang kusaksikan dan kunikmati,
berkarya menjadi utopi hangat dalam perjalananku,
maka tiada kata lain yang pantas keluar dari mulutku ini selain syukur,
bersyukur atas segala yang terjadi dalam keseharianku saat ini.
hingga saat nanti berhenti bukan lah opsi.
Berencana,
bergerak dan terus bergerak tak berhenti adalah misi,
kemudian menyusup senyap dari arah lain ikut dalam arus yang telah ada,
satu pekerjaan baru,
satu mimpi baru,
satu rencana baru,
kembali hanya untuk membuatku tetap bergerak dan BERKARYA.
BERKARYA,
pada apapun yang kusaksikan dan kunikmati,
berkarya menjadi utopi hangat dalam perjalananku,
maka tiada kata lain yang pantas keluar dari mulutku ini selain syukur,
bersyukur atas segala yang terjadi dalam keseharianku saat ini.
Dan sinar mentari pagi pun menembus rimbunnya dedaunan,
mengerling di kejauhan seperti memanggil langkahku,
untuk berjalan semakin jauh.
RASA, ada yang tak boleh hilang dengan ini.
Tidak karna terjebak romansa nuansa tapi sejatinya
adalah hal yang sangat prinsipil akan sebuah pilihan,
pilihan atas konstruksi “kapital” dan konstruksi “sosial”.
Biar pundi ku tak berisi penuh selama “rasa” menjadi bagiannya,
lebih indah dibanding pundi terisi penuh tapi tak tercecap “rasa”.
(DKS)
mengerling di kejauhan seperti memanggil langkahku,
untuk berjalan semakin jauh.
RASA, ada yang tak boleh hilang dengan ini.
Tidak karna terjebak romansa nuansa tapi sejatinya
adalah hal yang sangat prinsipil akan sebuah pilihan,
pilihan atas konstruksi “kapital” dan konstruksi “sosial”.
Biar pundi ku tak berisi penuh selama “rasa” menjadi bagiannya,
lebih indah dibanding pundi terisi penuh tapi tak tercecap “rasa”.
(DKS)
Langganan:
Postingan (Atom)























